Perkembangan sistem pemerintahan Mangkunegaran
mulai berjalan sejak berdirinya praja tersebut. Berbagai macam perubahan tidak
sengaja mengikuti perkembangan zaman. Berbagai elemen telah memengaruhi
perubahan yang terjadi di Mangkunegaran. Dua periode penjajahan telah
menjadikan pelajaran bagi pemimpin untuk menjadikan Mangkunegaran menuju suatu
perubahan.
K.G.P.A.A.
Mangkunegara VII naik tahta pada tahun 1916, menggantikan kedudukan K.G.P.A.A.
Mangkunegara VI yang pensiun dan pindah ke Surabaya. Tugas Mangkunegara VII
adalah melanjutkan masa pemerintahan Mangkunegara VI. Sebagai seorang pribadi
terpelajar yang juga pernah mengenyam pendidikan di negeri Belanda, beliau
dasar bahwa untuk memajukan kehidupan rakyatnya harus segera dilakukan
pembaharuan. Politik, sosial dan ekonomi yang merupakan tiga buah titik
pembaharuan tersebut.
Pembaharuan
yang tamak dalam perkembangan Mangkunegaran adalah perkembangan birokrasi dan
politik. Perubahan birokrasi selain dipengaruhi oleh watak dan dasar yang
terdapat dalam sistem kebudayaan dan menjadi induk birokrasi, dipengaruhi juga
oleh watak dasar yang terdapat dalam sistem kebudayaan yang ada dalam
lingkungan tempat birokrasi tersebut hidup dan berkembang. Birokrasi
Mangkunegaran sebagai bagian dari budaya politik di Indonesia merupakan
manifestasi dari sistem nilai dan kepercayaan yang dihayati oleh sebagaian
masyarakat penduduknya, yaitu sistem nilai dan kepercayaan budaya Jawa,
khususnya paham kekuasaan.
Mangkunegara
VII yang merupakan raja ke-7 di Mangkunegaran telah ikut berperan dalam
perubahan di Mangkunegaran. Melalui sistem manajemen kepegawaian ini
Mangkunegara VII melakukan perubahan-perubahan itu. Perubahan yang dimulai dari
politik Mangkunegara VII telah menyempurnakan susunan birokrasi kepegawaian
dengan mengukuti perkembangan zaman yang didasarkan atas kebutuhan dari
Mangkunegaran. Sistem manajemen kepegawaian yang diterapkan oleh Mangkunegara
VII adalah memerbaharuhi struktur birokrasi kepegawaian yang sudah ada. Adanya
penyempurnaan dalam perbuahan struktur birokrasi kepegawaian tersebut lebih
memudahkan Mangkunegara untuk mengatur pemerintahannya.
15
susunan birokrasi kepegawaian yang telah dibentuk Mangkunegara VII memiliki
spesifikasi kerja yang berbeda-beda. Sehingga dalam memperoleh informasi
tentang kondisi Mangkunegaran raja tinggal memanggil kepala kantor kedinasan
yang bertanggungjawaban untuk memberikan informasi. Adanya dua kali penjajahan
di Mangkunegaran telah membuat Mangkunegara VII terus membenahi Mangkunegaran.
Dengan konsep perubahan yang dilakukannya itu Mangkunegaran akhirnya telah
berhasil menjadi sebuah pemerintahan yang modern.
Dinamika
administrasi Mangkunegaran dilakukan dengan perubahan-perubahan terhadap
pengelolaan keuangan. Karena pengelolaan yang benar terhadap keuangan akan memudahkan
raja untuk memajukan kerajaan. Selain itu dilakukan juga perawatan dan
pembaharuan terhadap perusahaan-perusahaan yang dimiliki kerajaan karena akan
memperanjang hidup perusahaan tersebut. Hal ini nantinya akan menguntungkan
bagi kelangsungan Praja Mangkunegaran sendiri. Mangkunegara VII dalam mengelola
keuangan menggunakan konsep keseimbangan dimana pemasukan dan pengeluaran harus
berimbang, hal itu dikarenakan perubahan pemasukan yang diperoleh setiap
tahunnya.
Mangkunegara
VII juga telah berhasil memisahkan keuangan antara keperluan pribadi raja
dengan keperluan Praja Mangkunegaran. Hal ini karena kebutuhan raja yang cukup
besar sehingga perlu dipisahkan dengan pengeluaran dari Mangkunegaran sendiri.
Ini dilakukan demi kemajuan Mangkunegaran. Mangkunegara VII tidak mau
membebankan Praja Mangkunegaran demi kepentingannya sendiri. Sehingga pemisahan keuangan ini sangat
diperlukan.
Pengelolaan
keuangan yang seimbang menjadikan keuangan Mangkunegaran menjadi stabil.
Kepegawaian yang diurus dengan benar menjadikan ketenangan bagi pegawai/ abdi dalem yang bekerja di dalamnya.
Meskipun hanya dibayar dengan sukarela mereka tidak menuntut sama sekali karena
hal ini telah menjadi sebuah wujud dari pengabdian kepada seorang raja.
Karismatik dan kebaikan seorang raja telah menjadikan para abdi dalem merasa tentram. Bekerja dan mengabdi kepada raja dengan
ikhlas adalah rahmat, hal ini karena sudah menjadi sebuah tradisi dari zaman
kerajaan-kerajaan sebelumnya yakni kerajaan Mataram. Selain itu raja dianggap
memiliki kedekatan dengan penguasa dunia, konsep kekuasaan ini sering disebut Manunggaling Kawula Gusti.
Sistem
manajemen kepegawaian di Mangkunegaran yang telah dilakukan oleh Mangkunegara
VII ini merupakan contoh perkembangan sebuah kerajaan kecil. Dengan mengefisiensikan
birokrasi kepegawaian yang berfungsi untuk meningkatkan kesejahteraan pegawai.
Konsep efisiensi itu sendiri pada dasarnya merupakan konsep pemanfaatan sumber
dana dan sumber daya yang ada di Mangkunegaran dengan benar. Semakin besar
sumber daya semakin tinggi efisiensinya.
Konsep
yang diterapkan oleh Mangkunegaran tersebut pada dasarnya dapat dengan mudah
dipahami melalui pola piker budaya Jawa tentang kekuasaan. Kekuasaan yang
didapat seorang raja akan menjadikan kemudahan untuk melakukan apa saja tanpa
mendapat perlawanan dari rakyatnya. Mangkunegara VII yang telah menjalani
perjalanan hidup yang penuh dengan perjuangan akhirnya dapat mengubah
Mangkunegaran ke arah yang lebih baik.
*merupakan
kesimpulan dari skripsi karya Angga Krisnaya Putra dengan judul “Sistem
Manajemen Kepegawaian Mangkunegaran Masa Pemerintahan Mangkunegara VII Tahun
1916-1944” tahun 2009. Yogyakarta: UNY.
Komentar
Posting Komentar