A. Lancaran Mahesa Kurda
Kalamun
cinandra pan yayah mahesa kurda
Bendhe
umyung tengara bidhale wadya
Kang
tinata carob war dadi sajuga
Sang
panganjur aba-aba nabuh tambur
Teteg
ajeg suling peling nut wirama
Terjemahan:
Kalau dilukiskan ibarat
barisan kerbau rapi
Suara bende meriah
tanda berangkat tentara
Semua tertata indah
jadi satu padu
Sang komandan menabuh
tambur memberi aba-aba
Smua teratur dengan
seruling sesuai irama
Tembang
Lancaran Mahesa Kurda di atas menggambarkan barisan prajurit yang siap
berangkat menjalankan tugas. Kerapian dan keserasian barisan prajurit sungguh
sedap dipandang. Mereka mesti berlatih dengan sungguh-sungguh serta disiplin
agar kelihatan berwibawa. Latihan yang teratur dan terus menerus akan membuat
prajurit penuh dengan kecakapan dan keterampilan.
B. Lancaran Gambuh
Enjing
bidhal gumuruh
Tambur
suling gung maguru ngungkung
Binarung
ing krapyak
Myang
watang agathik
Kang
kapyarsa swaranipun
Lir
ombaking samudra rob
Terjemahan:
Pagi berangkat gemuruh
Tambur seruling
bersuara bersautan
Bersamaan dengan
krapyak
Serta batangan tongkat
Yang terdengar suaranya
Ibarat ombak samudra
pasang
Tembang
Lancaran Gambuh di atas melukiskan keberangkatan bala tentara pada pagi hari.
Tambur dan suara seruling saling bersahutan. Terdengar pula suara batangan
tongkat yang merdu dan indah. Kalau terdengar suaranya, dapat diibaratkan
sebagai gelombang samudra yang sedang pasang. Pasti suaranya yang mengagumkan
yang terdengar.
C. Lancaran Singa Nebak
Sigra mangsah lumampah
anut wirama
Getar tambur bendhene
munya angungkung
Suling sesauran
selompret tetep mindhiki
Terjemahan:
Segera berangkat
berjalan sesuai irama
Tambur, gong, bendhe
berbunyi bertalu-talu
Seruling bersahutan
dengan terompet sebagai pembukanya
Lancaran
Singa Nebak itu digunakan untuk mengiringi lagu budhalan. Para prajurit dan
komandannya akan tampak anggun bila lagu Singa Nebak itu digarap dengan baik.
Keserasian antara karawitan dengan tari, gerak dengan bunyi, akan menimbulkan
suasana semangat, meriah dan gembira. Penonton wayang memang menungi saat-saat
budhalan ini.
D. Suluk Budhalan
Enjing bidhal gumuruh
Saking jroning praja
Gunging kang kala kuswa
Aba busananira lir
surya wedalira
Saking jaladri arsa
madangi jagad
Duk mungup-mungup aneng
Sakpucaking wukir
Marbabak bang sumirat
Keneng soroting surya
Mega lan gunung-gunung
Terjemahan:
Pagi berangkat gegap
gempita
Dari ibukota kerajaan
Segenap bala tentara
Dengan kebesaran busana
seragam
Ibarat matahari terbit
Dari tepi samudra
Bergerak menerangi alam
raya
Gemerlap sinarnya
menyinari
Puncak gunung-gunung
dan mega-mega
Tampak kemerah-merahan
Demikian pula pantulan
cahaya
Dari mega-mega dan
gunung-gunung
Suluk
Budhalan di atas banyak mengungkap estetika keprajuritan. Barisan prajurit yang
gegap gempita memerlukan busana yang indah. Keindahan busana yang gemerlapan
itu diibaratkan dengan matahari terbit dari samudra. Sinar mentari yang
menerangi alam raya itu memerciki pepuncak gunung. Warna kemerah-merahan akibat
cahaya sang surya berbauran dengan mega.
E. Wayang Lorek Mati Sore
Wayang
Lorek adalah wayang yang berbaju lorek. Biasanya wayang lorek dalam hierrarki
ketentaraan wayang berpangkat rendah. Mereka prajurit yang tidak menduduki
jabatan strategis. Karena kedudukannya tidak penting, maka mereka merupakan
kelompok yang tidak terkenal.
Dimana-mana
sama saja, kehidupan setiap tokoh yang tidak memiliki kedudukan penting kurang
dipedulikan oleh masyarakat umum, apalagi perhatian dari atasan. Sebab, peran
mereka mudah digantikan oleh orang lain. Jika wayang lorek yang berpangkat
rendah meninggal, maka dengan segera wayang lorek lain yang akan mengambil alih
perannya.
Dalang
memang sengaja menempatkan wayang lorek untuk tampil pada saat yang masih sore.
Wayang lorek digunakan sebagai tumbal, tameng dan pelindung dalam menghadapi
musuh atasan. Sungguh kasihan, wayang lorek itu jika mati tidak ada yang
menangisi, apalagi mengangkatnya menjadi pahlawan.
F.
Barisan
Prajurit
Kerapian
prajurit dalam hal baris-berbaris sangat diperlukan bagi pembentukan citra
diri. Dengan penampilan yang rapi, indah, gagah dan manrik, pihak lain akan
memberi penghargaan berupa ketakziman. Barisan yang teratur dan padu sangat
mudah dinilai dengan mata terbuka oleh siapa saja.
Orang
Jawa sangat peduli dengan barisan prajurit. Dalam pewayangan barisan prajurit
itu digambarkan dalam bentuk budhalan. Episode budhalan ini sungguh meriah. Iringan
gamelan yang terdengar begitu bersemangat, gerakan para senopati atau komandan
prajurit betul-betul serasi. Dalang yang baik tentu membekali diri dengan
keterampilan budhalan ini dengan berlatih dan belajar. Budhalan merupakan
adegan unggulan dalam pekeliran.
G. Wadya
Bala Bacingah
Wadya
Bala Bacingah adalah bala tentara yang terdiri dari manusia dan raksasa. Campuran
antara watak manusia dengan watak raksasa tentu akan menimbulkan kekacauan.
Secara
kodrati, manusia memiliki sifat baik dan buruk. Apabila ia tidak sanggup mempertahankan
sifat kemanusiaannya, maka sebenarnya hanya raganya saja yang manusia,
sedangkan batinnya sudah bukan manusia lagi. Bahkan ia lebih rendah
dibandingkan dengan binatang sekalipun. Kita tentu sering menemukan orang yang
wataknya melebihi binatang.
Watak
manusia yang rendah itu bisa digolongkan sebagai sifat raksasa. Raksasa disebut
yaksa, diyu, denawa, asura, ditya atau buta. Uta buteng betah nganiaya, yaitu sifat yang suka akan perbuatan
aniaya dan sesat, perilaku yang merugikan harkat dan martabat orang lain adalah
sifat buta. Itu sebabnya campuran manusia dan raksasa atau bacingah sebagai
pasukan tentu sangat membahayakan.
Sumber:
Purwadi.
2015. Falsafah Militer Jawa: Praktik
Kemiliteran ala Kerajaan-Kerajaan Jawa. Yogyakarta: Araska. Halaman 147-154
Komentar
Posting Komentar