Karakter
yang disiplin, pantang menyerah dan mengutamakan kepentingan rakyat menjadi
ciri khas K.G.P.A.A. Mangkunegara VII dalam memajukan Mangkunegaran kea rah
yang lebih baik. Jiwa moderat, nasionalis, demokratis yang ada dalam beliau
sejak remaja sangat berpengaruh terhadap segala kebijakan pemerintahannya.
Beliau sangat dihormati dan disegani para pegawainya sehingga mempermudah
jalannya pembangunan. Beliau sebagai pemimpin yang dituntut untuk mengayomi
rakyatnya mempunyai tanggung jawab untuk memperdayakan rakyatnya agar sejahtera
dengan memperhatikan pembangunan semua bidang kehidupan antara lain ekonomi,
sosial, budaya, politik, olahraga dan kesehatan.
Bidang
olahraga menjadi salah satu bidang yang mendapat perhatian karena melalui
olahraga inilah rakyat Mangkunegaran menjadi sehat (dalam arti luas) sehingga
dapat memajukan Mangkunegaran. Bukti nyata perhatian beliau terhadap olahraga
adalah kebijakan pembangunan sarana dan prasarana yang menunjang pengembangan
dan kemajuan olahraga. Sarana olahraga tersebut adalah pembangunan lapangan
pusat olahraga di Manahan yang berlokasi di depan sekolah Openbare Mulo. Lapangan itu untuk kepentingan umum, juga disediakan
untuk pelajaran olahraga bagi murid-murid sekolah Openbare Mulo. Kebijakan penggabungan antara sarana olahraga dengan
kurikulum di sekolah adalah langkah penting untuk memasyarakatkan olahraga
sejak usia dini.
Beliau
juga menganjurkan pembuatan perkumpulan-perkumpulan olahraga.
Perkumpulan-perkumpulan tersebut di bawah lindungan langsung beliau sehingga
dapat dipantau perkembangan olahraga di Mangkunegaran. Perkumpulan-perkumpulan
tersebut antara lain Sport Vereniging
Mangkoe-Nagaran (SVMN), Sport Unie
Sarosa, dan Ikatan Sport Indonesia. Salah satu perkumpulan yang sangat
memperhatikan keinginan rakyat untuk melakukan kegiatan olahraga Sport Vereniging Mangkoe-Nagaran (SVMN).
Beliau
juga membuat kebijakan untuk memasyarakatkan dan mengembangkan cabang-cabang
olahraga yang berkembang di Mangkunegaran antara lain sepak bola, balap kuda
dan tenis. Kebijakan-kebijakan tersebut antara lain:
1. Di
setiap onderdistrik disediakan paling
sedikit satu lapangan olahraga yang cukup luas pada tahun 1935.
2. Membuat
arena balap kuda di Manahan sehingga menggairahkan rakyat di dalam
Mangkunegaran dan luar Mangkunegaran untuk ikut bertanding.
3. Membuat
perkumpulan tenis bernama “Tennis Club der Officieren (TCO)”
Kebijakan-kebijakan
dalam bidang olahraga tersebut ternyata mempunyai dampak yang positif bagi
rakyat Mangkunegaran antara lain terjaganya keharmonisan antara K.G.P.A.A.
Mangkunegaran VII dan rakyat, adanya tatanan sosial yang baik di Mangkunegaran,
meningkatnya pembangunan kesehatan untuk rakyat.
Olahraga
merupakan salah satu contoh interaksi yang bersifat positif dalam tatanan
sosial Mangkunegaran karena telah mengubah rakyat Mangkunegaran lebih tata
tentrem dengan tidak mengubah kebudayaan Mangkunegaran. Syarat utama yang harus
dipenuhi agar manusia dapat berhasil dalam bersikap dan berperilaku dalam
proses sosialnya adalah harus memiliki tubuh yang sehat, baik sehat badan,
rohani (mental) dan sehat sosial. Sehat sosial termasuk di dalamnya karena
proses sosial yang baik pasti di dalamnya terdapat kesehatan sosial yang baik
pula.
Peningkatan
kesehatan yang terjadi di Mangkunegaran pada masa K.G.P.A.A. Mangkunegara VII
melalui proses yang lama dan panjang. Berjangkitnya penyakit, budaya hidup
bersih yang belum diterapkan, budaya mistis orang Jawa, dan pelayanan kesehatan
yang belum memadai merupakan beberapa kendala/masalah kesehatan di
Mangkunegaran. Kendala/masalah tersebut dapat diatasi dengan adanya
langkah-langkah yang tepat. Langkah-langkah tersebut antara lain:
1. Pemberantasan
dan pencegahan berbagai penyakit, misalnya pembuatan jamban, penyemprotan
sarang-sarang tikus dan membongkar sarang-sarang tikus, serta melakukan
vaksinasi dan revaksinasi.
2. Penyuluhan
secara rutin kepada kelompok-kelompok masyarakat.
3. Pembangunan
rumahs akit dan poliklinik-poliklinik.
Keberhasilan
pembangunan kesehatan di Mangkunegaran dapat dilihat dari meningkatnya
kesadaran dan kepercayaan penduduk untuk berobat di rumah sakit atau
poliklinik, angka kelahiran yang tinggi dan angka kematian yang rendah,
penerapan budaya hidup bersih misalnya penggunaan jamban ketika buang besar.
*merupakan
kesimpulan dari skripsi karya Ahmad Daelami dengan judul “K.G.P.A.A.
Mangkunegara VII dan Kiprahnya dalam Bidang Olahraga di Mangkunegaran Tahun
1916-1941” tahun 2009. Yogyakarta: UNY.
Komentar
Posting Komentar