K.G.P.A.A. Mangkunegara VII dan Kiprahnya dalam Bidang Olahraga di Mangkunegaran Tahun 1916-1941



Karakter yang disiplin, pantang menyerah dan mengutamakan kepentingan rakyat menjadi ciri khas K.G.P.A.A. Mangkunegara VII dalam memajukan Mangkunegaran kea rah yang lebih baik. Jiwa moderat, nasionalis, demokratis yang ada dalam beliau sejak remaja sangat berpengaruh terhadap segala kebijakan pemerintahannya. Beliau sangat dihormati dan disegani para pegawainya sehingga mempermudah jalannya pembangunan. Beliau sebagai pemimpin yang dituntut untuk mengayomi rakyatnya mempunyai tanggung jawab untuk memperdayakan rakyatnya agar sejahtera dengan memperhatikan pembangunan semua bidang kehidupan antara lain ekonomi, sosial, budaya, politik, olahraga dan kesehatan.

Bidang olahraga menjadi salah satu bidang yang mendapat perhatian karena melalui olahraga inilah rakyat Mangkunegaran menjadi sehat (dalam arti luas) sehingga dapat memajukan Mangkunegaran. Bukti nyata perhatian beliau terhadap olahraga adalah kebijakan pembangunan sarana dan prasarana yang menunjang pengembangan dan kemajuan olahraga. Sarana olahraga tersebut adalah pembangunan lapangan pusat olahraga di Manahan yang berlokasi di depan sekolah Openbare Mulo. Lapangan itu untuk kepentingan umum, juga disediakan untuk pelajaran olahraga bagi murid-murid sekolah Openbare Mulo. Kebijakan penggabungan antara sarana olahraga dengan kurikulum di sekolah adalah langkah penting untuk memasyarakatkan olahraga sejak usia dini.

Beliau juga menganjurkan pembuatan perkumpulan-perkumpulan olahraga. Perkumpulan-perkumpulan tersebut di bawah lindungan langsung beliau sehingga dapat dipantau perkembangan olahraga di Mangkunegaran. Perkumpulan-perkumpulan tersebut antara lain Sport Vereniging Mangkoe-Nagaran (SVMN), Sport Unie Sarosa, dan Ikatan Sport Indonesia. Salah satu perkumpulan yang sangat memperhatikan keinginan rakyat untuk melakukan kegiatan olahraga Sport Vereniging Mangkoe-Nagaran (SVMN).

Beliau juga membuat kebijakan untuk memasyarakatkan dan mengembangkan cabang-cabang olahraga yang berkembang di Mangkunegaran antara lain sepak bola, balap kuda dan tenis. Kebijakan-kebijakan tersebut antara lain:

1.  Di setiap onderdistrik disediakan paling sedikit satu lapangan olahraga yang cukup luas pada tahun 1935.
2.  Membuat arena balap kuda di Manahan sehingga menggairahkan rakyat di dalam Mangkunegaran dan luar Mangkunegaran untuk ikut bertanding.
3.      Membuat perkumpulan tenis bernama “Tennis Club der Officieren (TCO)”

Kebijakan-kebijakan dalam bidang olahraga tersebut ternyata mempunyai dampak yang positif bagi rakyat Mangkunegaran antara lain terjaganya keharmonisan antara K.G.P.A.A. Mangkunegaran VII dan rakyat, adanya tatanan sosial yang baik di Mangkunegaran, meningkatnya pembangunan kesehatan untuk rakyat.

Olahraga merupakan salah satu contoh interaksi yang bersifat positif dalam tatanan sosial Mangkunegaran karena telah mengubah rakyat Mangkunegaran lebih tata tentrem dengan tidak mengubah kebudayaan Mangkunegaran. Syarat utama yang harus dipenuhi agar manusia dapat berhasil dalam bersikap dan berperilaku dalam proses sosialnya adalah harus memiliki tubuh yang sehat, baik sehat badan, rohani (mental) dan sehat sosial. Sehat sosial termasuk di dalamnya karena proses sosial yang baik pasti di dalamnya terdapat kesehatan sosial yang baik pula.

Peningkatan kesehatan yang terjadi di Mangkunegaran pada masa K.G.P.A.A. Mangkunegara VII melalui proses yang lama dan panjang. Berjangkitnya penyakit, budaya hidup bersih yang belum diterapkan, budaya mistis orang Jawa, dan pelayanan kesehatan yang belum memadai merupakan beberapa kendala/masalah kesehatan di Mangkunegaran. Kendala/masalah tersebut dapat diatasi dengan adanya langkah-langkah yang tepat. Langkah-langkah tersebut antara lain:

1. Pemberantasan dan pencegahan berbagai penyakit, misalnya pembuatan jamban, penyemprotan sarang-sarang tikus dan membongkar sarang-sarang tikus, serta melakukan vaksinasi dan revaksinasi.
2.      Penyuluhan secara rutin kepada kelompok-kelompok masyarakat.
3.      Pembangunan rumahs akit dan poliklinik-poliklinik.

Keberhasilan pembangunan kesehatan di Mangkunegaran dapat dilihat dari meningkatnya kesadaran dan kepercayaan penduduk untuk berobat di rumah sakit atau poliklinik, angka kelahiran yang tinggi dan angka kematian yang rendah, penerapan budaya hidup bersih misalnya penggunaan jamban ketika buang besar.



*merupakan kesimpulan dari skripsi karya Ahmad Daelami dengan judul “K.G.P.A.A. Mangkunegara VII dan Kiprahnya dalam Bidang Olahraga di Mangkunegaran Tahun 1916-1941” tahun 2009. Yogyakarta: UNY.


Komentar