Irigasi
merupakan unsur yang penting guna meningkatkan produksi pertanian dan
kesejahteraan penduduk. Suatu sistem produksi pertanian khususnya produksi
tanaman pangan yang tangguh perlu didukung oleh sistem irigasi yang tangguh.
Suatu sistem irigasi yang tangguh mempunyai ciri-ciri keterandalan, ketahanan,
kemantapan dan keluwesan dalam menangani berbagai gejolak yang terjadi, baik
dari dalam maupun dari luar sistem irigasi yang bersangkutan.
Irigasi
mulai dibangun dengan serius, bersamaan dengan munculnya politik etis atau
politik balas budi yang telah membawa pengaruh di Hindia Belanda. irigasi yang
merupakan salah satu progam dari trilogy yang jadi semboyan dalam politik etis.
Politik etis ini mempunyai tujuan untuk menyejahterakan masyarakat pribumi
dengan tiga silanya tersebut. Salah satunya irigasi yang merupakan suatu hal
yang penting bagi masyarakat yang mayoritas agraris. Irigrasi menjadi basis
dari pertanian, yang memroduksi bahan pangan sebagain besar masyarakat
Indonesia. Begitu juga pembangunan irigasi yang terjadi di Jawa termasuk
Mangkunegaran.
Pada
awalnya irigasi di Mangkunegaran dibangun dengan sederhana guna memenuhi
kebutuhan perkebunan tebu milik Belanda. Kemudian pembangunan irigasi mulai
diperhatikan pada masa Mangkunegara VII yang mempunyai perhatian lebih terhadap
irigasi yang ada di Mangkunegaran. Hal ini sesuai dengan ide Mangkunegara VII
yang berusaha untuk meningkatkan pertanian dan kesejahteraan masyarakat
Mangkunegaran dengan pertaniannya. Mangkunegaran yang daerahnya sebagaian besar
pertanian sangat perlu adanya irigasi yang handal dan tangguh. Walaupun di
Mangkunegaran terdapat juga perusahaan perkebunan dan pabrik gula yang besar
pengaruhnya, akan tetapi pertanian sangat diperhatikan juga oleh Praja
Mangkunegaran. Selain itu juga adanya kekeringan yang terjadi di daerah
Wonogiri yang menyebabkan irigasi lebih diperhatikan di daerah tersebut. Selain
itu, di daerah Wonogiri merupakan daerah yang berbukit-bukit sehingga perlu
adanya pengaturan air.
Pembangunan
irigasi di Mangkunegaran pada kurun waktu 1916-1942 bersifat pasang surut, yang
mana dalam kurun waktu tersebut terjadi depresi ekonomi dunia yang secara tidak
langsung memengaruhi perkembangan pembangunan irigasi di Mangkunegaran. Irigasi
mulai banyak dibangun antara tahun 1917-1929, karena pembangunan irigasi masih
dibangun dengan biaya dari Praja Mangkunegaran dan pabrik gula yang ada di
Mangkunegaran (Pabrik Tasikmadu dan Colomadu). Ini dikarenakan setelah depresi
ekonomi dunia banyak pabrik gula yang mengalami penurunan produksi. Akibatnya,
pembangunan irigasi mulai berkurang, kemudian dilanjutkan pada masa penjajahan
Jepang yang tidak begitu memperhatikan masalah irigasi, sehingga bangunan-bangunan
irigasi tidak terawat.
Pada
awalnya irigasi banyak dimanfaatkan oleh perkebunan tebu milik swasta, kemudian
dengan adanya pengaturan maupun lembaga irigasi hal tersebut dapat teratasi.
Hal ini dikarenakan telah dibentuknya Dewan Pengairan (waterschap). Dengan dibentuknya lembaga-lembaga pengairan, irigasi
dapat diatur dengan sedemikian rupa sesuai dengan aturan yang berlaku. Lembaga
yang dibentuk mirip hampir sama dengan lembaga pengairan yang ada di Bali
(sistem Subak). Hal ini sesuai dengan adanya sistem glebagan yang ada di Mangkunegaran.
Pertanian
yang ada di Mangkunegaran dilakukan berdasarkan sistem glebagan atau bergantian dengan tanaman tebu. Irigasi mampu
meningkatkan pertanian di Mangkunegaran, yang mana irigasi telah mampu
meningkatkan perluasan lahan pertanian baik lahan basah maupun lahan kering
yang ada di Mangkunegaran yang semlua tidak digunakan sebagai lahan pertanian.
Bahkan daerah perkebunan tebu mengalami lebih banyak perluasan lahan pertanian
dibanding dengan daerah non tebu, adanya simbosis antara tanaman tebu dan
tanaman pangan, yang mana bekas dari penanaman tebu memberi pupuk yang
menyuburkan tanah, sehingga pertanian sangatlah subur. Dengan adanya perluasan
lahan menyebabkan produksi padi (tanaman pangan) mengalami peningkatan.
Begitu
juga dampak irigasi pada kesejahteraan masyarakat, dengan adanya irigasi,
kemakmuran di Mangkunegaran dapat diketahui. Meningkatnya produktivitas lahan
pertanian berdampak pada konsumsi masyarakat Mangkunegaran. Makin meningkatnya
produksi hasil pertanian, rata-rata konsumsi masyarakat Mangkunegaran mengalami
kenaikan bahkan membaik. Selain itu, kemakmuran di wilayah Mangkunegaran dapat
diukur juga berdasarkan tingkat penguasaan lahan dan pengolahannya. Dari setiap
daerah di Mangkunegaran kesejahteraan masyarakatnya berbeda-beda, kondisi
daerah bisa memengaruhi juga. Dapat disimpulkan bahwa masyarakat di wilayah
Mangkunegaran bisa dikategorikan sebagai masyarakat yang hidup di atas garis
kemiskinan, dengan tingkat konsumsi 326 kg per orang dan 0,67 hektar penguasaan
lahan per keluarga. Meskipun begitu, kemakmuran di Mangkunegaran mengalami
penurunan pada masa depresi ekonomi tahun 1930, dengan ditandai oleh banyaknya
tunggakan pajak. Meskipun pembangunan irigasi memberikan sumbangan yang besar
terhadap kesejahteraan masyarakat Mangkunegaran, namun hal diatas juga mampu
memengaruhi kesejahteraan masyarakat di Mangkunegaran.
Pertanian
yang ada di Mangkunegaran dilakukan berdasarkan sistem glebagan atau bergantian dengan tanaman tebu. Irigasi mampu meningkatkan
pertanian di Mangkunegaran, yang mana irigasi telah mampu meningkatkan
perluasan lahan pertanian baik lahan basah maupun lahan kering yang ada di
Mangkunegaran yang semula tidak digunakan sebagai lahan pertanian. Bahkan
daerah perkebunan tebu mengalami lebih banyak perluasan lahan pertanian
disbanding dengan daerah non tebu, adanya simbosis antara tanaman tebu dan
tanaman pangan, yang mana bekas dari penanaman tebu memberi pupuk yang
menyuburkan tanah, sehingga pertanian sangatlah subur. Dengan adanya peluasan
lahan menyebabkan produksi pada (tanaman pangan) mengalami peningkatan.
Begitu
juga dampak irigasi pada kesejahteraan masyarakat, dengan adanya irigasi,
kemakmuran di Mangkunegaran dapat diketahui. Meningkatnya produktivitas lahan
pertanian berdampak pada konsumsi masyarakat Mangkunegaran. Makin meningkatnya
produksi hasil pertanian, rata-rata konsumsi masyarakat Mangkunegaran mengalami
kenaikan bahkan membaik. Selain itu, kemakmuran di wilayah Mangkunegaran dapat
diukur juga berdasarkan tingkat penguasaan lahan dan pengolahannya. Dari setiap
daerah di Mangkunegaran kesejahteraan masyarakatnya berbeda-beda, kondisi
daerah bisa memengaruhi juga. Dapat disimpulkan bahwa masyarakat di wilayah
Mangkunegaran, dengan tingkat konsumsi 326 kg perorang dan 0,67 hektar
penguasaan lahan perkeluarga. Meskipun begitu, kemakmuran di Mangkunegaran
mengalami penurunan pada masa depresi ekonomi tahun 1930, dengan ditandai oleh
banyaknya tunggakan pajak. Meskipun pembangunan irigasi memberikan sumbangan
yang besar terhadap kesejahteraan masyarakat Mangkunegaran, namun hal diatas
juga mampu memengaruhi kesejahteraan masyarakat di Mangkunegaran.
*merupakan
kesimpulan dari skripsi karya Rohmi Susanti dengan judul “Dampak Pembangunan
Irigasi Terhadap Pertanian di Mangkunegaran Tahun 1916-1942” tahun 2009.
Yogyakarta: UNY.
Komentar
Posting Komentar