Dampak Pembangunan Irigasi Terhadap Pertanian di Mangkunegaran Tahun 1916-1942



Irigasi merupakan unsur yang penting guna meningkatkan produksi pertanian dan kesejahteraan penduduk. Suatu sistem produksi pertanian khususnya produksi tanaman pangan yang tangguh perlu didukung oleh sistem irigasi yang tangguh. Suatu sistem irigasi yang tangguh mempunyai ciri-ciri keterandalan, ketahanan, kemantapan dan keluwesan dalam menangani berbagai gejolak yang terjadi, baik dari dalam maupun dari luar sistem irigasi yang bersangkutan.

Irigasi mulai dibangun dengan serius, bersamaan dengan munculnya politik etis atau politik balas budi yang telah membawa pengaruh di Hindia Belanda. irigasi yang merupakan salah satu progam dari trilogy yang jadi semboyan dalam politik etis. Politik etis ini mempunyai tujuan untuk menyejahterakan masyarakat pribumi dengan tiga silanya tersebut. Salah satunya irigasi yang merupakan suatu hal yang penting bagi masyarakat yang mayoritas agraris. Irigrasi menjadi basis dari pertanian, yang memroduksi bahan pangan sebagain besar masyarakat Indonesia. Begitu juga pembangunan irigasi yang terjadi di Jawa termasuk Mangkunegaran.

Pada awalnya irigasi di Mangkunegaran dibangun dengan sederhana guna memenuhi kebutuhan perkebunan tebu milik Belanda. Kemudian pembangunan irigasi mulai diperhatikan pada masa Mangkunegara VII yang mempunyai perhatian lebih terhadap irigasi yang ada di Mangkunegaran. Hal ini sesuai dengan ide Mangkunegara VII yang berusaha untuk meningkatkan pertanian dan kesejahteraan masyarakat Mangkunegaran dengan pertaniannya. Mangkunegaran yang daerahnya sebagaian besar pertanian sangat perlu adanya irigasi yang handal dan tangguh. Walaupun di Mangkunegaran terdapat juga perusahaan perkebunan dan pabrik gula yang besar pengaruhnya, akan tetapi pertanian sangat diperhatikan juga oleh Praja Mangkunegaran. Selain itu juga adanya kekeringan yang terjadi di daerah Wonogiri yang menyebabkan irigasi lebih diperhatikan di daerah tersebut. Selain itu, di daerah Wonogiri merupakan daerah yang berbukit-bukit sehingga perlu adanya pengaturan air.

Pembangunan irigasi di Mangkunegaran pada kurun waktu 1916-1942 bersifat pasang surut, yang mana dalam kurun waktu tersebut terjadi depresi ekonomi dunia yang secara tidak langsung memengaruhi perkembangan pembangunan irigasi di Mangkunegaran. Irigasi mulai banyak dibangun antara tahun 1917-1929, karena pembangunan irigasi masih dibangun dengan biaya dari Praja Mangkunegaran dan pabrik gula yang ada di Mangkunegaran (Pabrik Tasikmadu dan Colomadu). Ini dikarenakan setelah depresi ekonomi dunia banyak pabrik gula yang mengalami penurunan produksi. Akibatnya, pembangunan irigasi mulai berkurang, kemudian dilanjutkan pada masa penjajahan Jepang yang tidak begitu memperhatikan masalah irigasi, sehingga bangunan-bangunan irigasi tidak terawat.

Pada awalnya irigasi banyak dimanfaatkan oleh perkebunan tebu milik swasta, kemudian dengan adanya pengaturan maupun lembaga irigasi hal tersebut dapat teratasi. Hal ini dikarenakan telah dibentuknya Dewan Pengairan (waterschap). Dengan dibentuknya lembaga-lembaga pengairan, irigasi dapat diatur dengan sedemikian rupa sesuai dengan aturan yang berlaku. Lembaga yang dibentuk mirip hampir sama dengan lembaga pengairan yang ada di Bali (sistem Subak). Hal ini sesuai dengan adanya sistem glebagan yang ada di Mangkunegaran. 

Pertanian yang ada di Mangkunegaran dilakukan berdasarkan sistem glebagan atau bergantian dengan tanaman tebu. Irigasi mampu meningkatkan pertanian di Mangkunegaran, yang mana irigasi telah mampu meningkatkan perluasan lahan pertanian baik lahan basah maupun lahan kering yang ada di Mangkunegaran yang semlua tidak digunakan sebagai lahan pertanian. Bahkan daerah perkebunan tebu mengalami lebih banyak perluasan lahan pertanian dibanding dengan daerah non tebu, adanya simbosis antara tanaman tebu dan tanaman pangan, yang mana bekas dari penanaman tebu memberi pupuk yang menyuburkan tanah, sehingga pertanian sangatlah subur. Dengan adanya perluasan lahan menyebabkan produksi padi (tanaman pangan) mengalami peningkatan.

Begitu juga dampak irigasi pada kesejahteraan masyarakat, dengan adanya irigasi, kemakmuran di Mangkunegaran dapat diketahui. Meningkatnya produktivitas lahan pertanian berdampak pada konsumsi masyarakat Mangkunegaran. Makin meningkatnya produksi hasil pertanian, rata-rata konsumsi masyarakat Mangkunegaran mengalami kenaikan bahkan membaik. Selain itu, kemakmuran di wilayah Mangkunegaran dapat diukur juga berdasarkan tingkat penguasaan lahan dan pengolahannya. Dari setiap daerah di Mangkunegaran kesejahteraan masyarakatnya berbeda-beda, kondisi daerah bisa memengaruhi juga. Dapat disimpulkan bahwa masyarakat di wilayah Mangkunegaran bisa dikategorikan sebagai masyarakat yang hidup di atas garis kemiskinan, dengan tingkat konsumsi 326 kg per orang dan 0,67 hektar penguasaan lahan per keluarga. Meskipun begitu, kemakmuran di Mangkunegaran mengalami penurunan pada masa depresi ekonomi tahun 1930, dengan ditandai oleh banyaknya tunggakan pajak. Meskipun pembangunan irigasi memberikan sumbangan yang besar terhadap kesejahteraan masyarakat Mangkunegaran, namun hal diatas juga mampu memengaruhi kesejahteraan masyarakat di Mangkunegaran.

Pertanian yang ada di Mangkunegaran dilakukan berdasarkan sistem glebagan atau bergantian dengan tanaman tebu. Irigasi mampu meningkatkan pertanian di Mangkunegaran, yang mana irigasi telah mampu meningkatkan perluasan lahan pertanian baik lahan basah maupun lahan kering yang ada di Mangkunegaran yang semula tidak digunakan sebagai lahan pertanian. Bahkan daerah perkebunan tebu mengalami lebih banyak perluasan lahan pertanian disbanding dengan daerah non tebu, adanya simbosis antara tanaman tebu dan tanaman pangan, yang mana bekas dari penanaman tebu memberi pupuk yang menyuburkan tanah, sehingga pertanian sangatlah subur. Dengan adanya peluasan lahan menyebabkan produksi pada (tanaman pangan) mengalami peningkatan.

Begitu juga dampak irigasi pada kesejahteraan masyarakat, dengan adanya irigasi, kemakmuran di Mangkunegaran dapat diketahui. Meningkatnya produktivitas lahan pertanian berdampak pada konsumsi masyarakat Mangkunegaran. Makin meningkatnya produksi hasil pertanian, rata-rata konsumsi masyarakat Mangkunegaran mengalami kenaikan bahkan membaik. Selain itu, kemakmuran di wilayah Mangkunegaran dapat diukur juga berdasarkan tingkat penguasaan lahan dan pengolahannya. Dari setiap daerah di Mangkunegaran kesejahteraan masyarakatnya berbeda-beda, kondisi daerah bisa memengaruhi juga. Dapat disimpulkan bahwa masyarakat di wilayah Mangkunegaran, dengan tingkat konsumsi 326 kg perorang dan 0,67 hektar penguasaan lahan perkeluarga. Meskipun begitu, kemakmuran di Mangkunegaran mengalami penurunan pada masa depresi ekonomi tahun 1930, dengan ditandai oleh banyaknya tunggakan pajak. Meskipun pembangunan irigasi memberikan sumbangan yang besar terhadap kesejahteraan masyarakat Mangkunegaran, namun hal diatas juga mampu memengaruhi kesejahteraan masyarakat di Mangkunegaran. 


*merupakan kesimpulan dari skripsi karya Rohmi Susanti dengan judul “Dampak Pembangunan Irigasi Terhadap Pertanian di Mangkunegaran Tahun 1916-1942” tahun 2009. Yogyakarta: UNY.

Komentar