Awal
mula kemunculan pendidikan modern di Mangkunegaran bermula ketika politik
liberal yang diterapkan oleh pemerintahan kolonial Belanda sudah tidak dapat
dipertahankan lagi yang kemudian digantikan dengan politik etis. Politik etis
mencanangkan tiga progam pokok yaitu pendidikan, transmigrasi dan irigasi,
dengan dimasukkanya pendidikan pada progam pokok politik etis tersebut, maka
membuat dunia pendidikan modern mulai terbuka bagi rakyat Indonesia. Setelah
munculnya politik etis inilah, pemerintahan praja Mangkunegaran sangat
memperhatikan pendidikan rakyatnya.
Pendidikan
Mangkunegaran mulai berkembang pada saat pemerintahan Mangkunegara VI. Pada
masa pemerintahan Mangkunegara VI ini berdiri dua sekolah di Mangkunegaran,
sekolah tersebut ialah Sekolah Siswa dan sekolah untuk para gadis yang bernama
Cipta Rini. Sekolah Siswo pada tahun 1912 berganti nama menjadi Sekolah Angka I
(angka siji), kemudian pada tahun 1914 berganti nama menjadi HIS Siswo atau Mangkunegaranse
School atau dikenal dengan HIS no.4 dengan bahasa Belanda sebagai pengantar.
Pendidikan
di Mangkunegaran maju dengan pesat pada masa pemerintahan Mangkunegara VII.
Pada waktu Mangkunegara VII naik tahta sudah terdapat dua sekolah yaitu Sekolah
Siswa atau HIS Mangkunegaran dan Sekolah Siswa Rini. Pada tahun 1918
Mangkunegara VII mendirikan 18 sekolah desa. Mengenai pendirian sekolah desa
ini, semua biaya pendirian sekolah ditanggung oleh pemerintah Mangkunegaran dan
desa hanya menyediakan tempat atau tanah untuk mendirikan sekolah.
Pada
tahun 1920, selian mendirikan bangunan baru untuk sekolah HIS Mangkunegaran,
Mangkunegara VII juga menitahkan untuk mendirikan sebuah Openbare Leeszaal atau ruang baca untuk umum dan juga mendirikan
sebuah Blibliotheek atau perpustakaan
yang diberi nama Sono Pustoko, selain itu didirikan pula sebuah Gymnastiek Zaal atau ruangan untuk senam
serta sebuah Sport Terrein atau
lapangan olahraga yang letaknya tidak jauh dari perpustakaan.
Pada
tahun 1932 terjadilah krisis ekonomi yang berdampak pula pada pendidikan di
Mangkunegaran. Proses pendirian sekolah desa pada tahun 1932 seudah berdiri 81
sebuah desa yaitu 30 sekolah berada di Kabupaten Mangkunegaran dan 51 sekolah
berada di Kabupaten Wonogiri. Setelah tahun 1932 pendirian sekolah-sekolah di
Mangkunegaran berhenti total yang disebabkan oleh krisis ekonomi.
Selain
terdapat sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah Mangkunegaran, di
Mangkunegaran juga terdapat sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah Gupernemen
Belanda, namun siswa yang masuk ke sekolah-sekolah Gupernemen ini hanyalah
orang-orang tertentu saja. Pada perkembangan yang selanjutnya, Gupernemen
membagi sekolah-sekolah angka II menjadi 2 bagian yaitu bagian atas (Vervolgschool) dan bagian bawah (sekolah
desa), di mana sedikit demi sedikit sekolah-sekolah bagian bawah ini
dilimpahkan pengelolaannya kepada pemerintah Mangkunegaran. Sekolah-sekolah
serahan dari Gupernemen tersebut telah menambah banyaknya sekolah di
Mangkunegaran yaitu dari 81 buah menjadi 103 buah.
Pemerintah
Mangkunegaran dalam mengawasi sistem pendidikan di sekolah-sekolah
Mangkunegaran terutama untuk sekolah desa menerapkan sistem pemeriksaan
terhadap sekolah-sekolah yang ada. Pemerintah Mangkunegaran menetapkan seorang abdi dalem-nya untuk menjadi seorang
pemeriksa sekolah yang dikenal dengan sebutan wadono guru atau dengan istilah Schoolopziener.
Modernisasi
pendidikan di Mangkunegaran dapat berkembang dengan pesat karena adanya
anggaran dana pendidikan yang dikeluarkan cukup besar oleh pemerintah
Mangkunegaran. Anggaran dana pendidikan tersebut diambil dari Anggaran
Pendapatan Belanda Praja Mangkunegaran (APBPMN). Adanya krisis ekonomi di
Mangkunegaran mengharuskan Pemerintah Mangkunegaran mengambil dua jalan
pemecahan. Jalan pertama ialah dengan mengeluarkan dana cadangan praja,
sedangkan jalan yang kedua ialah dengan menggali sumber-sumber keuangan lainnya
terutama dari sektor pajak.
Modernisasi
pendidikan di Mangkunegaran berhenti secara total pada tahun 1942. Berhentinya
modernisasi ini disebabkan karena adanya pengalihan kekuasaan di Indonesia,
yaitu dari pemerintahan Belanda berpindah tangan kepada pemerintahan Dai Nippon
atau pemerintah Jepang, yang berdampak pada perubahan sistem pendidikan dari
sistem pendidikan Barat menjadi sistem pendidikan Jepang. Hal ini menyebabkan
berhentinya modernisasi pendidikan di Mangkunegaran. Sekolah-sekolah yang telah
adapun diubah menjadi sekolah-sekolah dengan sistem pendidikan Jepang.
Studieonds
(dana beasiswa) didirikan oleh Mangkunegara VI pada tahun 1912 yang bekerja
sama dengan Residen Surakarta. Studiefonds
di Mangkunegaran ditangani oleh Commissie
van Advise. Pada awalnya pemberian besarnya dana beasiswa tergantung pada
besarnya pendapatan dari orang tua anak yang menerima beasiswa, namun pada
tahun 1919 terdapat peraturan baru yang memberikan besarnya dana beasiswa
tergantung pada tempat sekolah anak yang menerima dana beasiswa tersebut.
Studiefonds
Mangkunegaran terbagi menjadi tiga jenis yaitu Studiefonds A, Studiefonds B, dan Studiefonds kas daleman. Pada sekitar tahun 1930 krisis ekonomi
melanda Mangkunegaran, yang menyebabkan penurunan perkembangan Studiefonds Mangkunegaran. Pemerintah
Mangkunegaran hanya menjalankan Studiefonds
B pada masa krisis ekonomi ini karena pendapatan pemerintah Mangkunegaran
menurun dengan drastic. Tahun 1939 Studiefonds
Mangkunegaran mengalami peningkatan kembali karena krisis ekonomi yang melanda
sudah mulai berhenti.
*merupakan
kesimpulan dari skripsi karya Sigit Aryanto dengan judul “Modernisasi Pendidikan di
Mangkunegaran 1900-1942” tahun 2007. Yogyakarta: UNY.
Komentar
Posting Komentar