Sri
Susuhunan Pakubuwono X adalah putra Pakubuwono IX ke-21. Ia dilahirkan pada
Kamis Legi, 21 Rajab tahun alip 1795, atau tanggal 29 November 1866 dari istri
permaisuri Kanjeng Ratu Pakubuwono. Pakubuwono X bernama kecil Raden Mas
Sayidin Malikul Kusna, dan pada usia 3 tahun ia telah dinobatkan sebagai putra
mahkota bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Anom Hamangkunegara Sudidya
Rajaputra Narendra Ing Mataram VI (Fitria Ratnasari: 2006, 46).
Sampeyan
Dalem Ingkang Minulya Saha Ingkang Wicaksana Kanjeng Susuhunan Paku Buwana X
menduduki tahta kerajaan Kasunanan Surakarta pada 30 Maret 1893 sampai 20
Februari 1939, menggantikan ayahandanya Pakubuwono IX. Struktur pemerintahan
Pakubuwono X seperti masa-masa sebelumnya, dimana Sunan menduduki dan memiliki
jabatan dan kekuasaan tertinggi. Dalam melaksanakan roda pemerintahan, Sunan
dibantu oleh para Sentana Dalem dan Abdi Dalem. Mereka ini sebagai wakil
Sunan, mereka menerima pelimpahan wewenang dan tanggung jawab dari Sunan di
dalam melaksanakan roda pemerintahan berdasarkan kebijaksanaan Sunan (Gunawan
Sumodiningrat & Ari Wulandari: 2014, 39).
Sejarah
berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia, tidak bisa dilepaskan dari
peranan Kraton Surakarta, khususnya pada masa Sunan Pakubuwono X. meskipun
beliau wafat 6 tahun sebelum kemerdekaan RI, namun perjuangan kemerdekaan
bukanlah peristiwa sesaat yang tidak terkait dengan peristiwa sebelumnya. Sebagai
sebuah Negara yang berdaulat, pemerintah Hindia Belanda tentu sangat
memperhitungkan kekuatan politik kraton di mata rakyat. Meskipun sedikit banyak
telah terjadi campur tangan pemerintah kolonial terhadap kraton, namun mereka
tentu akan berhitung dengan lebih cermat jika mengusik ke wilayah profane.
Kebesaran Pakubuwono X juga terlihat dari kebebasan wilayah Surakarta menjadi
satu-satunya daerah yang bebas mengibarkan bendera gula kelapa atau merah-putih
(Danardono, Swasti R. Maysuhara & WR Dessy Susany (ed): 2009, 19).
Perjuangan
mengusir kolonialisme dari bumi Nusantara, digerakkan oleh aktor-aktor
intelektual, politisi, bangsawan, ulama, dan seluruh komponen lain yang tak
terbilang jumlahnya. Solo merupakan kota perjuangan dimana berbagai peristiwa
sejarah kebangsaan terjadi (Robert Jay. 1963; 87 dalam Danardono, Swasti R.
Maysuhara & WR Dessy Susany (ed):
2009, 19). Sunan Pakubuwono X telah jauh-jauh hari membaca perkembangan situasi
ini. Maka putra-putra dan kerabat bangsawan banyak sekali yang diberikan
dorongan dan fasilitas untuk belajar dan melakukan gerakan perjuangan, meskipun
seolah-olah tidak dikoordinasi oleh kraton (Darsiti Suratman: 1989, 90).
Hasilnya,
saat revolusi perjuangan mulai bergerak lebih maju, banyak sekali bangsawan
Surakarta yang siap memimpin baik dengan jalan kooperatif maupun nonkooperatif
dengan pihak pemerintah kolonial. Ketika di Jakarta berdiri organisasi Budi
Utomo, di Surakarta segera menyusul berdirinya Syarikat Dagang Islam.
Peranan
Kraton Surakarta dalam bidang perjuangan dan pergerakan sosial boleh dianggap
khususnya di masa pemerintahan Pakubuwono X merupakan pelopor pergerakan
nasional untuk mengembalikan kejayaan Mataram, yang kemudian mewujudkan dalam
konteks yang lebih luas, yaitu kemerdekaan 17 Agustus 1945 dan NKRI.
Sri
Susuhunan secara terbuka atau diam-diam memberi sokongan kepada
perkumpulan-perkumpulan politik itu. Contoh pemberian dukungan secara terbuka
terjadi pada kongres SI tahun 1913 yang diselenggarakan di Taman Sriwedhari
atas restu Sunan. Dengan perlindungan ini, SI aman dari pencekalan oleh pihak
Belanda. Di sebelah utara pasar Singosaren didirikan sebuah gedung pertemuan
Habi Praya yang dapat digunakan untuk mengadakan rapat-rapat atau pertemuan
oleh masyarakat Solo. Bung Karno pernah berpidato di tempat itu, tanpa bisa
dihalangi oleh Belanda, karena gedung itu adalah milik Sunan Pakubuwono X dan
dlindungi oleh Sunan (Danardono, Swasti R. Maysuhara & WR Dessy Susany (ed): 2009, 20). Dukungan lain dapat
dilihat pada organisasi seperti Budi Utomo, Sarekat Islam, Persyarikatan
Muhammadiyah.
A.
Budi
Utomo
Sejak
Dokter Wahidin pada antara 1906 dan 1907 melancarkan suatu gerakan untuk
mendirikan studiefonds (beasiswa)
yang kemudian disusul dengen pendirian perkumpulan Boedi Oetomo (BO), mulai
tampillah dengan jelas adanya reaksi dari kaum priyayi birokrasi dari golongan
ningrat ataupun aristrokrasi lama (Sartono Kartodirdjo:2014, 118) yang kemudian
ikut terjun dalam pergerakan nasional. Budi Utomo pada dasarnya tetap merupakan
organisasi priayi Jawa.
Organisasi
ini secara resmi menetapkan bahwa bidang perhatiannya meliputi penduduk Jawa
dan Madura; dengan demikian, mencerminkan kesatuan administrasi kedua pulau itu
dan mencakup masyarakat Sunda dan Madura yang kebudayaannya berkaitan erat
dengan Jawa. Adalah bahasa Melayu dan bukan bahasa Jawa yang dipilih sebagai
bahasa resmi Budi Utomo. Namun demikian, kalangan priayi Jawa dan sampai
tingkat yang jauh lebih kecil, Sunda-lah yang menjadi pendukung inti Budi
Utomo. Rasa keunggulan budaya orang Jawa cukup sering muncul ke permukaan;
bahkan di Bandung ada cabang-cabang khusus untuk anggota-anggota orang Jawa dan
Sunda. Budi Utomo tidak pernah memperoleh landasan rakyat yang nyata di antara kelas-kelas
bawah dan mencapai jumlah keanggotaan tertinggi hanya 10.000 orang pada akhir
tahun 1909. Organisasi ini pda dasarnya merupakan lembaga yang mengutamakan
kebudayaan dan pendidikan, seperti yang terlihat, ia jarang memainkan peran
politik yang aktif (M.C. Ricklefs: 2008, 355-356).
Mengetahui
berita baik ini, PB X langsung mendukung dan memberikan apresiasi yang total
terhadap pergerakan nasional tersebut. Para pangeran dan bangsawan kraton pun
didukung dan didorong untuk menjadi pengurus Boedi Oetomo. Putra-putra PB X
banyak yang terlibat aktif untuk memajukan Boedi Oetomo. Hal itu dilakukan
karena PB X tidak mungkin menjadi anggota organisasi politik, apalagi menjadi
pengurus atau ketuanya (Gunawan Sumodiningrat & Ari Wulandari: 2014, 120).
Boedi
Oetomo terus melakukan perluasan organisasi dengan membuat cabang-cabang di
seluruh Indonesia. Di Solo, nama yang dapat dihubungkan dengan Boedi Oetomo
ialah Raden Mas Arya Wuryaningrat, seorang bupati
nayaka yang menjadi menantu Sunan Pakubuwono X. Ia adalah cucu Pakubuwono
IX, karena ibunya adalah putri Pakubuwono IX atau kakak Pakubuwono X. Sunan
mendorong Raden Mas Wuryaningrat untuk melakukan pergerakan melalui organisasi
ini (Sanusi Pane, 1936 hal 111 dalam Gunawan Sumodiningrat & Ari Wulandari:
2014, 24).
B.
Sarekat
Islam
Pergerakan
nasional yang lahir kemudian lahir ialah Sarekat Islam (SI). Sarekat Islam (SI)
merupakan salah satu organisasi pergerakan nasional yang muncul abad ke-20 dan
dilatar belakangi oleh situasi kondisi rakyat Indonesia yang memprihatinkan,
selalu diselimuti kemiskinan, kebodohan, dan ketidakadilan (Yus Pramudia Jati: 2014,
1) yang dipimpin oleh Haji Samanhudi, H.O.S. Cokroaminoto, KH Agus Salim, dan
Abdul Muis. SI didirikan di Solo tanggal
11 November 1912 yang merupakan kelanjutan dari organisasi Sarekat Dagang Islam
(SDI). SDI didirikan pada tanggal 16 Oktober 1905 oleh Haji Samanhoedi memiliki
tujuan untuk memajukan ekonomi umat Islam dalam menghadapi persaingan bisnis
dengan pedagang-pedagang Tionghoa (Azyumardi Azra, Jajat Burhanuddin &
Taufik Abdullah (eds): 2015, 290).
SI
mendapatkan sambutan yang luas dari masyarakat Indonesia dan secara cepat
mengembangkan cabang-cabangnya di daerah-daerah. Peningkatan kegiatan SI ini
menjadikan kekhawatiran Residen Surakarta karena banyaknya kegiatan yang tidak
lagi diawasi sehingga organisasi dibekukan penguasa setempat (Azyumardi Azra,
Jajat Burhanuddin & Taufik Abdullah (eds):
2015, 291). Atas jaminan dari PB X, pada 16 Agustus 1912, SI boleh aktif lagi.
Skor tersebut dengan syarat agar anggaran dasarnya diubah sedemikian rupa,
sehingga ia hanya terbatas pada daerah Surakarta saja.
Gerakan
ini secara langsung mendapat dukungan politik dan finansial dari Sunan
Pakubuwono X (Danardono, Swasti R. Maysuhara & WR Dessy Susany (eds): 2009, 27). Tak heran kalau gerakan
Boedi Oetomo dan Sarekat Islam mulai membesar dari Surakarta (Gunawan
Sumodiningrat & Ari Wulandari: 2014, 120). Sebagai ketua SI pertama yang
populis, Haji Umar Said Cokroaminoto, beliau kerap berhubungan dengan Sunan PB
X untuk bertukar pikiran, terutama membicarakan strategi perjuangan (Danardono,
Swasti R. Maysuhara & WR Dessy Susany (eds):
2009, 29).
C.
Muhammadiyah
Muhammadiyah didirikan di Kampung
Kauman Yogyakarta, pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 H/18 Nopember 1912 oleh
seorang yang bernama Muhammad Darwis, kemudian dikenal dengan KHA Dahlan.
Beliau adalah pegawai kesultanan Kraton Yogyakarta sebagai seorang Khatib dan
sebagai pedagang. Melihat keadaan ummat Islam pada waktu itu dalam keadaan
jumud, beku dan penuh dengan amalan-amalan yang bersifat mistik, beliau
tergerak hatinya untuk mengajak mereka kembali kepada ajaran Islam yang
sebenarnya berdasarkan Qur`an dan Hadist (Sejarah Muhammadiyah
dalam http://www.muhammadiyah.or.id/). Oleh karena itu beliau memberikan
pengertian keagamaan dirumahnya ditengah kesibukannya sebagai Khatib dan para
pedagang.
Sebelum Muhammadiyah berdiri, ia
mengajar agama kepada anak-anak sekolah negeri, misalnya sekolah Kweek School (Sekolah Raja di Jetis
Yogya, dan Sekolah Pamong Praja OSVIA di Magelang). Untuk menambah pengalaman
dan memperluas persahabatan, ia telah memasuki perkumpulan Budi Utomo, Sarekat
Islam, Yayasan Khairiyah, dan sebagainya. Kepada murid-muridnya dianjurkan untuk
memasuki perkumpulan/partai menurut kemampuannya masing-masing (A.
Ahmadi: 1987, 46).
Gagasan pembaharuan Muhammadiyah
disebarluaskan oleh Ahmad Dahlan dengan mengadakan tabligh ke berbagai kota,
disarming juga melalui relasi-relasi dagang yang dimilikinya. Gagasan ini ternyata
mendapat sambutan yang besar dari masyaralat dari berbagai kota di Indonesia.
Ulama-ulama dari berbagai daerah lain berdatangan kepadanya untuk menyatakan
dukungan terhadap Muhammadiyah. Oleh karena itu, pada tanggal 7 Mei 1921 Dahlan
mengajukan permohonan kepada pemerintah Hindia Belanda untuk mendirikan
cabang-cabang Muhammadiyah diseluruh Indonesia. Permohonan ini dikabulkan oleh
pemerintah Hindia Belanda pada tanggal 2 September 1921.
Ketika meresmikan Cabang
Muhammadiyah di Surakarta, terlebih dahulu beliau bersilaturahmi dengan
sahabat-sahabatnya di karton Surakarta khususnya Mr. Sumodiningrat. Pertemuan
kedua tokoh ini kemudian terjalin sebuah tali persahabatan. Bahkan PB X
mengundang KH Ahmad Dahlan untuk berceramah di Masjid Agung Surakarta saat
peringatan Isra Miraj (Majalah Muhammadiyah Al Islam Desember 1923 dalam Danardono, Swasti R. Maysuhara & WR
Dessy Susany (ed): 2009, 44). Mr. Sumodiningrat, cucu PB X
adalah tokoh pendidikan yang bersama-sama Muhammadiyah membidani berdirinya
Universitas Islam Indonesia, Universitas Cokroaminoto dan Universitas
Muhammadiyah Makassar.
Sunan Pakubuwono X untuk Indonesia
Pada
masa PB X umumnya perjuangan untuk mengusir kolonialisme Belanda adalah
perjuangan fisik dan terbuka, baik yang yang dilakukan oleh penguasa di Jawa
atau di wilayah Nusantara lainnya secara umum. Ketika PB X naik tahta, beliau
pun harus menandatangani kontrak politik dengan Belanda yang bermaksud agar
tidak “memberontak” kepada mereka. Di tengah dominasi dan tekanan Belanda yang
kuat, gerak PB X menjadi serba terbatas. Yang dilakukan olehnya justru memilih
perjuangan dengan jalan memutar. Beliau memilih jalan kompromi dan mengikuti
apa saja kemauan Belanda. PB X bersikap seolah-olah sebagai “teman” Belanda
agar segala gerak-geriknya tidak dicurigai dan bisa terus berjuang demi
kejayaan negeri leluhurnya.
Tentu
saja, dengan dukungannya yang besar terhadap gerakan politik tersebut,
kedudukan dan posisi PB X sebenarnya sangat dipertaruhkan dengan adanya kontrak
politik yang telah ditentukan Belanda. Toh, PB X dengan kelihaiannya
berkomunikasi, selalu bisa mematahkan kecurigaan Belanda dan meneruskan
perjuangannya lewat “orang-orang yang didukungnya”.
Nama-nama
seperti Dr. Radjiman Wedyodiningrat, RMA Wuryaningrat, Mr. Wongsonegoro,
Pangeran Hangabehi, Pangeran Kusumayuda, Pangeran Soemodiningrat, orang-orang
dekat di lingkungan Kraton Surakarta Hadiningrat, putra-putra dan cucu-cucu PB
X, dll memiliki peranan penting terhadap kelahiran NKRI –yang semuanya didukung
penuh oleh PB X sebagai ‘’pelindung’’- bila ada masalah dengan Belanda. PB X
memang tidak terlibat secara langsung, tetapi beliau sebenarnya aktor dibalik
layar yang mengendalikan penuh arah pergerakan nasional pada masa itu.
PB
X berhasil menjaga sikap dan wibawanya sebagai Raja Jawa di depan Belanda dan
di depan rakyatnya. Semasa pemerintahannya, raja yang dikenal berbadan besar
ini berhasil menghadapi 10 orang Gubernur Jenderal dan 13 orang Residen secara
bergantian dan nyaris tanpa konflik. Mereka menganggap PB X adalah raja yang
bisa dikendalikan dengan mudah karena patuh pada Belanda.
Selain
itu, beliau juga sering melakukan kunjungan secara incognito atau tidak resmi (Gunawan Sumodiningrat & Ari
Wulandari: 2014, 149). Kunjungan tersebut dilakukan ke berbagai daerah baik
yang dekat maupun yang jauh. Beliau mengunjungi Semarang, Surabaya, Ambarawa,
dan Salatiga. Sebenarnya kunjungan ini adalah kunjungan yang bersifat politik.
PB X bermaksud memperluas pengaruh kekuasaannya dan menggalang dukungan
masyarakat luas terhadap pergerakan nasional. Bahkan, PB X juga mengadakan
kunjungan yang sangat jauh ke Bali, Lombok dan Lampung.
PB
X juga melakukan perjalanan ke Priangan, Semarang, Pekalingan, Cirebon, Garut
dan Tasikmalaya. Pada saat berada di Garut, ratusan orang berkumpul menunggu PB
X. kerumunan ini tentu sangat merepotkan polisi Belanda. Perjalanan PB X sempat
dilarang dengan alasan biaya namun
setelah Belanda terlupa beliau kembali melakukan lawatan ke Madiun dan
berlanjut ke Malang. PB X menarik simpati rakyat dan para petinggi di daerah
tersebut dan menyebarluaskan gagasan-gagasan nasionalisme.
Pada
masa itu, melihat pengaruh Kraton Surakarta yang semakin meluas, Belanda
melarang pernikahan antara bupati dengan putri-putri kraton. Menanggapi aturan
larangan itu, PB X tidak kehilangan akal untuk menarik perhatian para bupati.
Beliau membagi-bagikan hadiah berupa kancing emas dan arloji berinisial PB X
kepada mereka. Dampaknya para petinggi semakin percaya pada PB X dan mengikuti
perintahnya untuk berjuang melawan Belanda (Gunawan Sumodiningrat & Ari
Wulandari: 2014, 151).
Lahirnya
NKRI ibarat pesan dan amanah Pakubuwono X kepada putra-putranya- yang merupakan
putra-putra terbaik bangsa- generasi emas yang disiapkan sejak belia dem
kemajuan dan kejayaan tanah leluhurnya, “Gedhe
mangsa iku padha bae dhisiki kersaning Allah, iku ora ilok, Angger. Ananging
yen sangat kasebut ing kangka wus manjing, kamangka Angger mung meneng bae, iku
bakal kasiku maring Allah. Manjing sangat yen wus Angger dadi yatim piatu. Kang
prayitno ati-ati” yang artinya (mengharapkan) masa kejayaan itu sama saja
dengan mendahului takdir Allah, itu tidak pantas, Nak. Tetapi kalau saat yang
disebut dalam ramalan (Jaya Baya) sudah ada, tetapi Anak hanya diam saja, itu
(juga) akan menyalahi terhdap ketentuan Allah. Saat itu akan tiba kalau Anak
sudah yatim piatu. Yang waspada hati-hati.
Selain
melalui perjuangan “diplomatik”, PB X juga membangun kepercayaan diri bangsa
Indonesia dengan membangun atau merenovasi bangunan yang dapat dibanggakan. Dan
boleh dikatakan juga sebagai “Bapak Pembangunan Kota Solo” di berbagai bidang.
Dapat disebutkan sebagai berikut:
a. Bidang
Pendidikan: pembangunan Sekolah Desa, Sekolah HIS Kasatriyan, HIS Pamardi
Putri, TK Pamardi Siwi, Mamba’ul Ulum, sekolah Pertanian di Delanggu.
b. Bidang
Kesehatan Masyarakat: pembangunan Rumah Skit Panti Raga Kadipolo, Rumah Sakit
Jiwa Mangunjayan.
c. Bidang
Hukum dan pemerintahan dengan pembaruan birokasi, sistem hokum, sistem
peradilan.
d. Bidang
Kebudayaan: membangun Museum Radya Pustaka dan Taman Sri Wedhari serta
pembaharuan tari Bedhaya Ketawang dan Srimpi Sangapati.
e. Bidang
Ekonomi: membangun Pasar Harjonagara dan Pabrik Rokok Cerutu, pengembangan
usaha batik, pabrik gula dan perkebunan.
f. Bidang
Sarana Publik: membangun PDAM kota, membangun jaringan listrik, mengembangkan
sarana transportasi, jalan dan jembatan, pembangunan tanggul, pemancar Radio
SRI dan kantor pos.
g. Bidang
Arsitektur: Pesanggarahan Madusita, Babad Madusita, Pintu gerbang istana
h. Bidang
Tradisi Luhur: Pesareyan Kotagede, Pajimatan Sapto Hargo Imogiri, Pasareyan
Pengging, Petilasan Kraton Pajang, dan Pasareyan Laweyan.
Sumber Referensi
Buku
A. Ahmadi.
1987. Pendidikan dari Masa ke Masa.
Bandung: Armico.
Azyumardi Azra, Jajat Burhanuddin &
Taufik Abdullah (eds). 2015. Sejarah Kebudayaan Islam Indonesia:
Institusi dan Geakan Jilid 3. Jakarta: Kemendikbud.
Danardono, Swasti R. Maysuhara & WR
Dessy Susany (ed). 2009. Sri Susuhunan Paku Buwono X: Perjuangan,
Jasa & Pengabdiannya untuk Nusa Bangsa. Jakarta: Bangun Bangsa.
Darsiti Suratman. 1989. Kehidupan Dunia
Kraton Surakarta 1830-1939. Disertasi.
Yogyakarta: Pascasarjana UGM.
Fitria Ratnasari. 2006. Suksesi
Kasunanan Surakarta: Masalah Pergantian Tahta Paku Buwana X (1898-1939). Skripsi. Yogyakarta: UNY.
Gunawan Sumodiningrat & Ari
Wulandari. 2014. Paku Buwono X: 46 Tahun
Berkuasa di Tanah Jawa. Yogyakarta: Narasi.
M.C. Ricklefs. 2008. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008.
Jakarta: Serambi.
Sartono Kartodirdjo. 2014. Pengantar Sejarah Indonesia Baru: Sejarah
Pergerakan Nasional dari Kolonialisme sampai Nasionalisme. Jakarta: Ombak.
Yus Pramudia Jati. 2014. Pertentangan
Media Cetak Sarekat Islam Semarang Terhadap Pemerintah Hindia Belanda
1916-1920. Skripsi Yogyakarta: UNY.
Internet
Komentar
Posting Komentar