Perkembangan Candu di Kadipaten Pakualaman



Candu merupakan komoditi perdagangan yang sangat menguntungkan di Jawa. Pemerintah Belanda sebagai pemegang hak monopoli candu di Jawa, bekerja sama dengan para bangsawan dan priyayi pribumi, serta elite China dalam menjalankan perdagangan candu, sehingga candu berkembang pesat di daerah-daerah di Jawa.

Candu masuk ke dalam wilayah Kadipaten Pakualaman, seperti halnya daerah-daerah lainnya di tanah Jawa, tidak ada yang tahu kapan dan siapa yang membawanya. Candu kemudian berkembang menjadi komoditi penting yang berkembang pesat di Kadipaten Pakualaman. Perkembangan candu sangat tergantung dari kontrak politik dengan penguasa negara jajahan sebagai pemegang hal monopoli candu.

1.    Para Pengguna Candu di Kadipaten Pakualaman

Keabsahan penggunaan candu di Kadipaten Pakualaman secara lambat laun menjadikan sifat kecanduan dan ketergentungan, karena secara logika dan fakta telah dibuktikan bahwa candu merupakan golongan obat yang membawa sifat ketergantungan. Para bangsawan dan priyayi merupakan kelompok pertama yang dapat menikmati candu. Mereka mendapatkan pasokan khusus dari para Bandar atas kerjasama memenangkan pasar-pasar candu di wilayahnya. Candu juga digunakan oleh penduduk Kadipaten Pakualaman baik orang pribumi maupun orang China yang mempunyai lisensi di tempat-tempat pemadatan yang sudah tersedia, kecuali mereka yang menggunakan candu gelap.

Pada sistem perbandaran candu, para pengguna candu di wilayah Kadipaten Pakualaman merupakan mereka yang memenuhi syarat-syarat untuk memperoleh lisensi dari para syahbandar, sehingga sering terjadi kecurangan dalam memperoleh lisensi tersebut. Berbeda halnya dengan sistem Regi Opium yang secara teknis pelaksanaan urusan candu dikelola Pemerintah Belanda secara langsung dengan menempatkan para bangsawan dan priyayi untuk menjadi pegawai-pegawai Regi Opium. Sehingga untuk memperoleh lisensi lebih kuat, seperti usia harus 18 tahun, atau mempunyai penghasilan yang sesuai dengan persyaratan.

Asisten Wedana Pakualaman Raden Mas Rio yang ditunjuk Regi Opium untuk mengurusi masalah candu di Kadipaten Pakualaman, menerima surat laporan permintaan permohonan penggunaan candu atau menambah lisensi penggunanya, dapat dilihat dalam table berikut:

Table 1
Daftar Surat Permohonan Ijin dan Lisensi Penggunaan Candu di Kadipaten Pakualaman Tahun 1927-1928.

No.
Nomor Surat
Tahun
Permasalahan
1
1474/34
Lampiran : 2
1927
Mbok Rangrangmedjo dan Mas Loerah Rangrangmedjo di kampong Jagalan memohon lisensi buat membeli candu.
2
989/34
Lampiran: 2
1928
Kasandimedjo dan Ranoeredjo memohon ijin membeli cndu dan minta tambah ijin.
3
819/34
1928
Kertodikromo dan Mbok Kertodikromo di kampong Jagalan memohon duplikat lisensi untuk membeli candu yang hilang pada waktu membeli candu di Gondomanan.
4
1235/34
1928
Permohonan ijin Mbok Padmowiharjo untuk menghisap madat dan mohon lisensi buat membeli candu.
5
613/34
1928
Permohonan ijin Mbok Tirtoredjo untuk mendapatkan lisensi untuk membeli candu.
6
798/34
Lampiran: 1
1928
Pengembalian surat ijin membeli candu atas nama Tomosodiro di Kampung Ledok Sari Pakualaman, dikarenakan yang bersangkutan telah meninggal dunia.
7
611/34
Lampiran: 1
1928
Pengembaliam surat ijin membeli candu atas nama Tirtoredjo di Kampung Jagalan Pakualaman, dikarenakan yang bersangkutan telah meninggal dunia.
Sumber: Surat Laporan ijin penambahan lisensi membeli candu dan pengembalian surat ijin membeli candu serta surat ijin menghisap madat dari Asisten Wedana Pakualaman Raden Mas Ario kepada tuan Controleur der Opium Regie le Klasse di Jogjakarta.

2.    Perkembangan Perederan Candu di Kadipaten Pakualaman

Perkembangan candu di Kadipaten Pakualaman tidak hanya didominasi oleh daerah-daerah perkotaan, daerah yang secara kultural dan geografus memungkinkan lebih cepat aksesnya, tetapi daerah-daerah di Kabupaten Adikarto, seperti Wates, Karang Wuni dan sekitarnya sudah terdapat perkembangan peredaran candu. Hal tersebut dibuktikan dengan Surat Laporan Bupati Adikarto No. 35 tahun 1893 kepada Pangeran Adipati Paku Alam, yang menyatakan bahwa dari tahun 1892 sampai dengan tahun 1893 menerima laporan dari komisi pabrik tentang daerahnya yang kelebihan (langkungan dalam bahasa Jawa) candu, daerah tersebut yaitu, dapat dilihat pada table 2:
Table 2
 Daerah-Daerah Kelebihan Candu di Kadipaten Pakualaman Tahun 1892-1893

No
Nama Daerah
Keterangan
1
Pahing Wates
Kelebihan 92 tail, 45 mripat jenis candu. (1 tail sama dengan 38 gram atau sama dengan 100 mripat).
2
Karang Wuni
Tidak Ada
3
Karang Wuluh
Tidak Ada
4
Ngglaeng
Tidak Ada
5
Bendungan
Tidak Ada
Sumber: Surat Laporan ongko 882 tahun 1893, merupakan laporan Bupati Adikarto kepada Pengeran Adipati Paku Alam.

Perkembangan peredaran candu di daerah Kadipaten Pakualaman terus berkembang pesat, seperti tercantum dalam Kaart Adikarto Pakoealaman (peta persebaran candu di Adikarto), yaitu daerah Brosot,Galor, Djengoek, Bendoengan, Glagah, Karang Woeloeh dan Glaheng sudah terdapat penyebaran candu.

Pemerintah Belanda dalam mengatur perkembangan peredaran candu di Kadipaten Pakualaman dengan membuat undang-undang, salah satunya adalah Javaansche Vertaling van Staatbald 1909 No. 441. Tercantum dalam Bab 5 No. 8 Javaansche Vertaling van Staatblad 1909 No. 441, yang mengatur tentang waktu pembukaan dan penutupan tempat pemadatan candu, yang berbunyi:

Penggedhene nagara sarembag lan inspekture apyiun resi, bakal anamtoke wayah wowot pambukane lan wayah panutupe sawijining pamadatan kang kena kaambah ing ngakeh, ananing sadengah ana lare pamadatan iku wiwit jam sewelas bengi tumekanne jam enem esuk kudu tutup.

(Yang artinya: pemerintah Negara dan inspektur opium, akan menentukan waktu awal pembukaan dan waktu tutup tempat pemadatan yang boleh digunakan, waktu buka pemadatan dari jam sebelas malam sampai jam enam pagi harus tutup).

Pemerintah Belanda dalam mengatur perkembangan peredaran candu di Kadipaten Pakualaman, menetapkan kontrak waktu dan tempat pemadatan candu di wilayah Kadipaten Pakualaman dengan para Bandar, yaitu termuat dalam Contract uit het Register der Besluiten van den Resident van Jogjakarta No. 11546/34. Kontrak tersebut mengatur tempat dan waktu buka pemadatan di daerah Kadipaten Pakualaman, antara lain dapat dilihat dalam table 3:

Table3
 Waktu Kerja Penjualan dan Pemadatan Opium di Kadipaten Pakualaman tahun 1912

Nomor dan Nama Tempat Penjualan
Waktu Buka dan Kerja
Tempat Penjualan
Pemadatan
Jam Kerja
Jam Istirahat
1
Toegoe
7 pagi sampai dengan 10 malam
9 pagi sampai dengan 11 siang dan 5 sore sampai 7 malam
7 pagu sampai dengan 10.30 malam
2
Padjinan Besar
Idem
Idem
Idem
3
Ketandan
Idem
Idem
Idem
4
Ngabean
Idem
Idem
Idem
5
Tandjoeng
Idem
Idem
Idem
6
Gondomanan
Idem
Idem
Idem
8
Tamansari
Idem
Idem
Idem
9
Gading
Idem
Idem
Idem
16
Pasar Gede
Idem
Idem
Idem
45
Wates
Idem
Idem
Idem
39
Pripih
7 pagi sampai dengan 1 siang dan 4 sore sampai dengan 9 malam
9 pagi sampai dengan 11 siang
7 pagi sampai dengan 9.30 malam
40
Dekso
Idem
Idem
Idem
41
Sentolo
Idem
Idem
Idem
42
Kloemoetan
Idem
Idem
Idem
43
Djombokan
Idem
Idem
Idem
44
Keboan
Idem
Idem
Idem
46
Bendoengan
Idem
Idem
Idem
47
Glaeng
Idem
Idem
Idem
48
Glagah
Idem
Idem
Idem
49
Wonopeti
Idem
Idem
Idem
50
Wonokasih
Idem
Idem
Idem
51
Brosot
Idem
Idem
Idem
Sumber: Contract uit het Register der Besluiten van den Resident van Jogjakarta No. 11546/34

Tempat-tempat pemadatan candu di Kadipaten Pakualaman terus mengalami perkembangan yang sangat pesat, ditandai dengan munculnya tempat-tempat pemadatan baru, salah satunya tempat pemadatan candu di daerah Adikarto, yaitu daerah Wonopeti.


Sumber:
Muhammad Arief Kurniawan. 2007. Peranan Pemerintah Kadipaten Pakualaman dalam Memberantas Peredaran Candu Gelap Tahun 1882-1930. Skripsi. Yogyakarta: UNY. Halaman 50-58

Komentar